Monthly Archives

Maret 2019

Wisata Belitung

SEJARAH SINGKAT PULAU BELITUNG

Belitung, atau Belitong (bahasa setempat, dipungut dari nama sejenis siput laut), dulunya dikenal sebagai Billiton ialah sebuah pulau di lepas pantai unsur timur Sumatra, Indonesia, dijepit oleh Selat Gaspar dan Selat Karimata. Pulau ini familiar dengan lada putih (Piper sp.) yang dalam bahasa setempat dinamakan sahang, dan bahan tambang tipe galian-C laksana timah putih (Stannuum), pasir kuarsa, tanah liat putih (kaolin), dan granit. Serta akhir-akhir ini menjadi destinasi wisata alam alternatif. Pulau ini dahulu dipunyai Britania Raya (1812), sebelum kesudahannya ditukar untuk Belanda, bersama-sama Bengkulu, dengan Singapura dan New Amsterdam (sekarang unsur kota New York). Kota utamanya ialah Tanjung Pandan.

Pulau Belitung terbagi menjadi 2 kabupaten yakni Kabupaten Belitung, beribukota di Tanjung Pandan, dan Belitung Timur, beribukota Manggar.

Sebagaian besar penduduknya, khususnya yang bermukim di area pesisir pantai, paling akrab dengan kehidupan bahari yang kaya dengan hasil ikan laut. Berbagai olahan makanan yang berbahan ikan menjadi makanan keseharian penduduknya. Kekayaan laut menjadi di antara sumber mata pencaharian warga Belitung. Sumber daya alam yang tak kalah penting untuk kehidupan masyarakat Belitung ialah timah. Usaha pertambangan timah sudah dibuka sejak zaman Hindia Belanda.

Penduduk Pulau Belitung terutama ialah suku Melayu (bertutur dengan logat Belitung) dan keturunan Tionghoa Hokkien dan Hakka.

Secara peta geografis pulau Belitung (Melayu ; Belitong) terletak pada 107°31,5′ – 108°18′ Bujur Timur dan 2°31,5′-3°6,5′ Lintang Selatan. Secara borongan luas pulau Belitung menjangkau 4.800 km² atau 480.010 ha.Pulau Belitung disebelah utara diberi batas oleh Laut Cina Selatan, sebelah unsur timur berbatasan dengan selat Karimata, sebelah unsur selatan bersebelahan dengan Laut Jawa serta sebelah barat berbatasan dengan selat Gaspar. Di selama pulau ini ada pulau-pulau kecil laksana Pulau Mendanau, Kalimambang, Gresik, Seliu dan lain-lain.

SEJARAH BELITONG

Belitung adalahkepulauan yang mengalami sejumlah pemerintahan raja-raja. Pada akhir abad ke-7, Belitung terdaftar sebagai distrik Kerajaan Sriwijaya, lantas ketika Kerajaan Majapahit mulai berjaya pada tahun 1365, pulau ini menjadi di antara benteng pertahanan laut kerajaan tersebut. Baru pada abad ke-15, Belitung mendapat hak-hak pemerintahannya. Tetapi itupun tidak lama, sebab ketika Palembang diperintah oleh Cakradiningrat II, pulau ini segera menjadi taklukan Palembang.[1]

Sejak abad ke-15 di Belitung sudah berdiri suatu kerajaan yakni Kerajaan Badau dengan Datuk Mayang Geresik sebagai raja kesatu. Pusat pemerintahannya terletak di sekitar wilayah Pelulusan kini ini. Wilayah kekuasaaannya meliputi wilayah Badau, Ibul, Bange, Bentaian, Simpang Tiga, sampai ke Buding, Manggar dan Gantung. Beberapa peninggalan sejarah yang mengindikasikan sisa-sisa kerajaan Badau, berupa tombak berlok 13, keris, pedang, gong, kelinang, dan garu rasul. Peninggalan-peninggalan itu dapat didatangi di Museum Badau.

Kerajaan kedua ialah Kerajaan Balok. Raja kesatunya berasal dari keturunan bangsawaan Jawa dari Kerajaan Mataram Islam mempunyai nama Kiai Agus Masud atau Kiai Agus Gedeh Ja’kub, yang bergelar Depati Cakraningrat I dan memerintah dari tahun 1618-1661. Selanjutnya pemerintahan dijalankan oleh Kiai Agus Mending atau Depati Cakraningrat II (1661-1696), yang mengalihkan pusat kerajaan dari Balok Lama ke suatu wilayah yang lantas dikenal dengan nama Balok Baru. Selanjutnya pemerintahan dipegang oleh Kiai Agus Gending yang bergelar Depati Cakraningrat III.

Pada zaman saat pemerintahan dari Depati Cakraningrat III ini, Belitung terjadi perpecahan menjadi 4 Ngabehi, yakni :

Ngabehi Badau mempunyai gelar Ngabehi Tanah Juda atau Singa Juda;
Ngabehi Sijuk mempunyai gelar Ngabehi Mangsa Juda atau Krama Juda;
Ngabehi Buding mempunyai gelar Ngabehi Istana Juda.
Masing-masing Ngabehi ini pada kesudahannya menurunkan raja-raja yang seterusnya lepas dari Kerajaan Balok. Pada tahun 1700 Depati Cakraningrat III wafat kemudian digantikan oleh Kiai Agus Bustam (Depati Cakraningrat IV). Pada zaman pemerintahan Depati Cakraningrat IV ini, agama Islam pun mulai tersebar di Pulau Belitung.

Gelar Depati Cakraningrat hanya digunakan sampai dengan raja Balok yang ke-9, yakni Kiai Agus Mohammad Saleh (bergelar Depati Cakraningrat IX), sebab pada tahun 1873 gelar itu dihapus oleh Pemerintah Belanda. Keturunan raja Balok selanjutnya yakni Kiai Agus Endek (memerintah 1879-1890) berpangkat sebagai Kepala Distrik Belitung dan berkedudukan di Tanjungpandan.

Kerajaan ketiga ialah Kerajaan Belantu, yang adalahbagian distrik Ngabehi Kerajaan Balok. Rajanya yang kesatu ialah Datuk Ahmad (1705-1741), yang bergelar Datuk Mempawah. Sedangkan rajanya yang terakhir mempunyai nama KA. Umar.

Kerajaan keempat atau yang terakhir yang pernah berdiri ialah Kerajaan Buding, yang adalahbagian dari distrik Kerajaan Balok. Rajanya mempunyai nama Datuk Kemiring Wali Raib. Dari keempat kerajaan yang telah dilafalkan diatas, Kerajaan Balok adalahkerajaan terbesar yang pernah terdapat di Pulau Belitung.

MASA PENDUDUKAN BELANDA-JEPANG

Pada abad ke-17, Pulau Belitung menjadi jalur perniagaan dan lokasi persinggahan kaum pedagang. Dari sekian tidak sedikit pedagang, yang sangat berpengaruh ialah pedagang Cina dan Arab. Hal ini dapat dipersaksikan dari tembikar-tembikar yang dibuat pada zaman Wangsa Ming abad ke-14 sampai ke-17, yang tidak sedikit ditemukan dalam lapisan-lapisan tambang timah di wilayah Kepenai, Buding, dan Kelapa Kampit. Berdasarkan daftar dari sejarawan Cina mempunyai nama Fei Hsin (1436). Sedangkan orang Cina mengenal Belitung diakibatkan pada tahun 1293, pedagang-pedagang Cina itu masuk ke Pulau Belitung selama tahun 1293. Sebuah armada Cina dibawah pimpinan Shi Pi, Ike Mise dan Khau Hsing yang sedang menyelenggarakan perjalanan ke Pulau Jawa kandas di perairan Belitung.

Di samping bangsa Cina, bangsa beda yang tidak sedikit mengenal Pulau Belitung ialah bangsa Belanda. Pada tahun 1668, suatu kapal Belanda mempunyai nama ‘Zon De Zan Loper’, dibawah pimpinan Jan De Marde, mendarat di Belitung. Mereka merapat di sungai Balok, yang saat tersebut adalahsatu-satunya bandar di Pulau Belitung yang ramai dikunjungi saudagar asing.

Berdasarkan dilakukannya serah terima Tuntang pada saat tanggal 18 September 1821, Pulau Belitung masuk kedalam wilayah dominasi Inggris (meskipun secara de facto terjadi pada tanggal 20 Mei 1812). Residen Inggris di Bangka, mengusung seorang raja siak guna memerintah Belitung sebab di pulau kecil ini tidak jarang terjadi perlawanan rakyat yang dipimpin oleh tetua adat. Kemudian menurut Surat Keputusan Komisaris Jenderal Kerajaan Inggris tanggal 17 April 1817, Inggris memberikan Belitung untuk Kerajaan Belanda. Selanjutnya atas nama Baginda Ratu Belanda, ditunjuk seorang Asisten Residen guna menjalankan pemerintahan di Pulau Belitung.

Pada tahun 1823, seorang Kapten berkebangsaan Belgia mempunyai nama JP. De La Motte, yang menjabat sebagai Asisten Residen dan pun pimpinan tentara Kerajaan Belanda, sukses menemukan timah di pulau tersebut. Selanjutnya seusai Traktat London tahun 1850, penambangannya dipungut alih oleh Billiton Maatschapij, suatu perusahaan penambangan timah kepunyaan Pemerintah Belanda. Pada saat tersebut Belitung terbagi atas 6 daerah, yakni :

Tanjungpandan dan Gantung/Lenggang yang berada langsung dibawah pemerintahan Depati;
Badau, Sijuk, Buding dan Belantu yang berada dibawah pemerintahan setiap Ngabehi
Pada tahun 1890, pangkat Ngabehi dimusnahkah dan digantikan dengan Kepala Distrik. Selanjutnya ada 5 wilayah yaitu : Tanjungpandan, Manggar, Buding, Dendang dan Gantung. Tahun 1852 Belitung diceraikan dari Bangka dalam hal administrasi dan kewenangan penambangan timah. Pemisahan itu atas tekanan JF. Louden (kepala pemerintahan pusat di Batavia), untuk menangkal pengaruh buruk dari Residen Bangka yang iri menyaksikan pertambangan timah yang berkembang dengan pesat di Belitung. Dalam susunan sistem pemerintahan Hindia Belanda, pada tahun 1921 Belitung dijadikan sebuah wilayah yang dibawahi oleh seorang Demang yakni KA. Abdul Adjis, yang ditolong 2 orang Asisten Demang yang membawahi 2 onder district, yakni Belitung Barat dan Belitung Timur. Gemeente atau kelurahan di Belitung disusun pada tahun 1921-1924. Berdasarkan Ordonantie No. 73 tanggal 21 Februari 1924, Belitung terpecah menjadikan ada 42 Gemeente.

Pada tahun 1933, Belitung terjadi perubahan kedudukan menjadi satu Onder-afdeling yang diperintah oleh seorang Controleur dengan pangkat Assistant Resident, yang bertanggung jawab untuk Residen dari Afdeling Bangka – Belitung yang berkedudukan di Pulau Bangka. Tanggal 1 Januari 1939 berlaku ketentuan baru di distrik di distrik Belitung, yang berarti Pulau Belitung telah diberi hak untuk menata daerahnya sendiri. Tentu saja urusan itu memengaruhi sejumlah keadaan, contohnya Onder-afdeling Belitung mencakup 2 wilayah yaitu, Distrik Belitung Barat dan Distrik Belitung Timur, yang masing-masing dibawahi oleh seorang Demang.

Tentara Jepang menempati Pulau Belitung pada bulan April 1944, pemerintahan dikedua distrik dibawahi oleh Gunco. Pada mula tahun 1945, Jepang menyusun Badan Kebaktian Rakyat di Belitung yang bertugas menolong pemerintahan. Masa pendudukan Jepang tidak lama, selanjutnya terjadi evolusi kembali saat tentara Belanda pulang menguasai Belitung pada tahun 1946. Pada masa pemerintahan Belanda ini, Onder-afdeling Belitung diperintah pulang oleh Asisten Residen Bangsa Belanda, sementara penguasaan wilayah tetap dipegang oleh seorang Demang yang lantas diganti dengan sebutan Bestuurhoofd.

MASA KEMERDEKAAN

Pulau Belitung menjadi unsur dari Residensi Bangka – Belitung, sejumlah tahun lamanya pernah menjadi unsur dari Gewest Borneo, lantas menjadi unsur Gewest Bangka – Belitung dan Riau. Tetapi urusan itu tidak dilangsungkan lama, sebab muncul ketentuan yang mengolah Pulau Belitung menjadi Neolanchap. Setelah itu sebagai badan pemerintahan dibentuklah Dewan Belitung pada tahun 1947. Pada masa-masa pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS), Neolanchap Belitung adalahnegara tersendiri, bahkan sebab sesuatu urusan tidak menjadi negara bagian. Tahun 1950 Belitung diceraikan dari RIS dan digabungkan dalam Republik Indonesia. Pulau Belitung menjadi suatu kabupaten yang tergolong dalam Provinsi Sumatera Selatan dibawah dominasi militer, sebab pada waktu tersebut Sumatera Selatan adalahDaerah Militer Istimewa. Sesudah berakhirnya pemerintahan militer, Belitung berubah menjadi kabupaten yang dibawahi oleh seorang Bupati.

SETELAH TAHUN 2000

Pada tanggal 21 November 2000, menurut Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2000, Pulau Belitung bareng dengan Pulau Bangka memekarkan diri dan menyusun satu provinsi baru dengan nama Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Provinsi ini adalahprovinsi ke-31 di Indonesia. Berdasarkan aspirasi masyarakat dan sekian banyak pertimbangan, Kabupaten Belitung dipecah menjadi 2 kabupaten yakni Kabupaten Belitung beribukota di Tanjungpandan dengan jangkauan wilayah mencakup 5 kecamatan dan Kabupaten Belitung Timur dengan Manggar sebagai ibukotanya dengan jangkauan wilayah mencakup 4 kecamatan.

Baca Juga :

Paket Tour Belitung 3 Hari 2 Malam

Paket Wisata Belitung Termurah

https://id.wikipedia.org/wiki/Kepulauan_Bangka_Belitung