Belitung Tour, Wisata Belitung

Dampak Negatif Pariwisata dan ini Solusinya

Pariwisata sudah terbukti bisa mendorong perkembangan perekonomian melewati peluang investasi, kesempatan kerja, kesempatan berusaha. Pada akhirnya, seluruh peluan itu dapat menambah kesejahteraan masyarakat. Peluang berjuang bukan melulu dalam format pembangunan sarana dan prasarana pariwisata tetapi pun peluang dalam bidang kerajinan kecil laksana handycrafts.

Baca Juga :
Agent Travel Belitung Tour
Nusa Penida Tour dan Travel Terbaik

Namun, akhir-akhir ini terjadi paradigma baru dalam bidang kepariwisataan yang anda agung-agungkan. Peningkatan kesejahteraan masyarakat melewati peluang kerja di seluruh lini ternyata terbukti dapat mengakibatkan malapetaka terhadap kehidupan sosial, kebiasaan dan lingkungan.

Kesejahteraan yang anda nikmati secara ekonomi ternyata tidak dibuntuti oleh penambahan kehidupan sosial, budaya, dan pelestarian lingkungan. Masalah-masalah sosial tidak sedikit kita temui di masyarakat sesudah kita mengembangkan kepariwisataan.

Demikian pun mengenai masalah kebiasaan dan lingkungan. Tragedi kebiasaan dan lingkungan tidak jarang kita lihat melewati berita-berita di koran dan televisi lokal.

Pembangunan sektor pariwisata di sekian banyak belahan dunia ini sudah melahirkan akibat tersendiri dalam sekian banyak dimensi kehidupan manusia, tidak hanya dominan pada dimensi sosial ekonomi semata, tetapi pun menyetuh dimensi sosial kebiasaan bahkan lingkungan fisik. Dampak terhadap sekian banyak dimensi itu bukan hanya mempunyai sifat positif namun juga dominan negatif.

Dampak pengembangan pariwisata menurut keterangan dari Yoeti (2008), antara lain: pengasingan sampah sembarangan (selain mengakibatkan bau tidak sedap, pun membuat tumbuhan di sekitarnya mati). Juga pengasingan limbah hotel, restoran, dan lokasi tinggal sakit yang merusak air sungai, telaga atau laut.

Belum lagi dampaknya terhadap kehancuran terumbu. Para nelayan bukan lagi mempunyai pantai untuk menggali ikan, sebab pantai sudah dikaveling untuk membina hotel dan restoran. Akibatnya, mereka membom terumbu karang sebagai jalan pintas. Pada akhirnya, tidak terdapat lagi pesona pantai.

Di samping itu, maraknya perambahan hutan dan pencemaran sumber-sumber hayati yang tidak terkendali sehingga mengakibatkan hilangnya pesona wisata alam.

Dampak Pembangunan Pariwisata terhadap Lingkungan Hidup

Industri pariwisata mempunyai hubungan erat dan powerful dengan lingkungan fisik. Lingkungan alam adalahaset pariwisata dan mendapatkan akibat karena sifat lingkungan jasmani tersebut yang rapuh (fragile) dan tak terpisahkan (Inseparability).

Bersifat rapuh sebab lingkungan alam adalahciptaan Tuhan yang andai dirusak belum pasti akan tumbuh atau kembali laksana sedia kala. Bersifat tidak terpisahkan sebab manusia mesti mengunjungi lingkungan alam guna dapat menikmatinya.

Lingkungan fisik ialah daya tarik utama pekerjaan wisata. Lingkungan jasmani meliputi lingkungan alam (flora dan fauna, bentangan alam, dan fenomena alam) dan lingkungan produksi (situs kebudayaan, distrik perkotaan, distrik pedesaan, dan peninggalan sejarah).

Secara teori, hubungan lingkungan alam dengan pariwisata mesti mutual dan bermanfaat. Wisatawan merasakan keindahan alam dan penghasilan yang dibayarkan wisatawan dipakai untuk mengayomi dan merawat alam untuk keberlangsungan pariwisata.

Hubungan lingkungan dan pariwisata tidak selamanya saling menyokong dan menguntungkan. Maka dari itu, upaya konservasi, apresiasi, dan edukasi dilakukan supaya hubungan dua-duanya berkelanjutan. Tetapi disaksikan dari fakta yang ada, hubungan keduanya malah memunculkan konflik.

Pariwisata lebih tidak jarang mengeksploitasi lingkungan alam.

Dampak pariwisata terhadap lingkungan jasmani merupakan akibat yang gampang diidentifikasi sebab nyata. Pariwisata menyerahkan keuntungan dan kerugian, inilah ini :

  1. Air

Air menemukan polusi dari pengasingan limbah cair (detergen pencucian linen hotel) dan limbah padat (sisa makanan tamu). Limbah-limbah tersebut mencemari laut, telaga dan sungai. Air pun mendapatkan polusi dari buangan bahan bakar minyak perangkat transportasi air laksana dari kapal pesiar.

Akibat dari pengasingan limbah, maka lingkungan terkontaminasi, kesehatan masyarakat terganggu, evolusi dan kehancuran vegetasi air, nilai estetika perairan berkurang (seperti warna laut berubah dari warnabiru menjadi warna hitam) dan badan air beracun sampai-sampai makanan laut (seafood) menjadi berbahaya. Wisatawan menjadi tidak bisa mandi dan berenang sebab air di laut, telaga dan sungai tercemar.

Karena itu, masyarakat dan wisatawan mesti mulai menjaga kesucian perairan, guna meminimalisir polusi air. Alat transportasi air yang dipakai pun mesti berupa angkutan yang ramah lingkungan, laksana : perahu dayung, kayak, dan kano.

  1. Atmosfir

Perjalanan memakai alat transportasi udara paling nyaman dan cepat. Namun, angkutan udara berpotensi merusak atmosfir bumi. Hasil buangan emisinya dilepas di angkasa yang mengakibatkan atmosfir ternoda dan gemuruh mesin pesawat mengakibatkan polusi suara.

Di samping itu, udara tercemar dampak emisi kendaraan darat (mobil, bus) dan bunyi deru mesin kendaraan mengakibatkan kebisingan. Akibat polusi udara dan polisi suara, maka nilai wisata berkurang, empiris menjadi tidak mengasyikkan dan memberikan akibat negatif untuk vegetasi dan hewan.

Inovasi kendaraan ramah lingkungan dan angkutan udara berpenumpang massal (seperti pesawat Airbus380 dengan kapasitas 500 penumpang) perlu dilaksanakan guna mengurangi polusi udara dan suara. Anjuran untuk meminimalisir kendaraan bermotor pun harus dilaksanakan dan kampanye berwisata sepeda ditingkatkan.

  1. Pantai dan pulau

Pantai dan pulau menjadi pilihan tujuan wisata semua wisatawan. Namun, pantai dan pulau rentan terkena akibat negatif dari pariwisata. Pembangunan kemudahan wisata di pantai dan pulau, pendirian prasarana (jalan, listrik, air), pembangunan infrastruktur (bandara, pelabuhan) memprovokasi kapasitas pantai dan pulau.

Akibatnya, lingkungan tepian pantai bobrok (contoh penebasan hutan bakau guna pendirian akomodasi tepi pantai). Di samping itu, kehancuran karang laut, hilangnya peruntukan lahan pantai tradisional dan erosi pantai menjadi beberapa dampak pembangunan pariwisata.

Preservasi dan konservasi pantai dan laut menjadi pilihan guna memperpanjang umur pantai dan laut. Pencanangan taman laut dan area konservasi menjadi pilihan. Wisatawan pun ditawarkan pekerjaan ekowisata yang mempunyai sifat ramah lingkungan.

Beberapa pengelola pulau (contoh pengelola Taman Nasional Kepulauan Seribu) hendaknya menawarkan paket perjalanan yang ramah lingkungan yang menawarkan kegiatan menanam lamun dan menempatkan bakau di laut.

  1. Pegunungan dan lokasi liar

Wisatawan asal wilayah bermusim panas memilih berwisata ke pegunungan guna berganti suasana. Sementara itu, kegiatan wisata di pegunungan berpotensi merusak gunung dan lokasi liarnya. Pembukaan jalur pendakian, pendirian hotel di kaki bukit, pembangunan gondola (cable car), dan pembangunan kemudahan lainnya merupakan sejumlah contoh pembangunan yang berpotensi merusak gunung dan lokasi liar.

Akibatnya, terjadi tanah longsor, erosi tanah, menipisnya vegetasi pegunungan (yang dapat menjadi paru-paru masyarakat) serta potensi polusi visual dan banjir yang berlebihan sebab gunung tidak dapat menyerap air hujan.

Reboisasi (penanaman pulang pepohonan di pegunungan) dan peremajaan pegunungan dalam urusan ini perlu dilaksanakan sebagai upaya pencegahan kehancuran pegunungan dan lokasi liar.

  1. Vegetasi

Pembalakan liar, penebasan pepohonan, bahaya kebakaran hutan (akibat api unggun di perkemahan) serta koleksi bunga, tanaman dan jamur untuk keperluan wisatawan merupakan sejumlah kegiatan yang merusak vegetasi.

Akibatnya, terjadi degradasi hutan (berpotensi erosi lahan), evolusi struktur tumbuhan (misalnya pohon yang seharusnya berbuah masing-masing tiga bulan pulang menjadi setiap enam bulan, bahkan menjadi tidak berbuah), hilangnya spesies tumbuhan langka dan kehancuran habitat tumbuhan. Ekosistem vegetasi menjadi terganggu dan tidak seimbang.

  1. Kehidupan satwa liar

Kehidupan satwa binal menjadi pesona wisata yang luar biasa. Wisatawan terpukau dengan pola hidup hewan. Namun, pekerjaan wisata mengganggu kehidupan satwa-satwa tersebut.

Komposisi hewan berubah dampak pemburuan fauna sebagai cenderamata, pelecehan satwa binal untuk fotografi, pemerasan hewan guna pertunjukan, gangguan reproduksi fauna (berkembang biak), evolusi insting fauna (contoh, komodo yang dahulunya hewan buas menjadi fauna jinak yang dilindungi), migrasi fauna (ke lokasi yang lebih baik).

Jumlah fauna liar juga akhirnya berkurang. Akibatnya, saat wisatawan mengunjungi wilayah wisata, ia bukan lagi mudah mengejar satwa-satwa tersebut

  1. Situs sejarah, budaya, dan keagamaan

Penggunaan yang berlebihan untuk trafik wisata mengakibatkan situs sejarah, kebiasaan dan keagamaan gampang rusak. Kepadatan di wilayah wisata, alterasi fungsi mula situs, komersialisasi wilayah wisasta menjadi sejumlah contoh akibat negatif pekerjaan wisata terhadap lingkungan fisik.

Situs keagamaan ditemui oleh tidak sedikit wisatawan sampai-sampai mengganggu faedah utama sebagai lokasi ibadah yang suci. Situs kebiasaan digunakan secara komersial sampai-sampai dieksploitasi secara berlebihan (contoh Candi menampung jumlah wisatawan yang melebihi kapasitas).

Kapasitas daya tampung website sejarah, kebiasaan dan keagamaan dapat diduga dan dikendalikan melewati manajemen pengunjung sebagai upaya mengurangi kehancuran pada website sejarah, kebiasaan dan keagamaan. Upaya konservasi dan preservasi serta renovasi dapat dilaksanakan untuk memperpanjang umur situs-situs tersebut.

  1. Wilayah perkotaan dan pedesaan

Pendirian hotel, restoran, kemudahan wisata, toko cinderamata dan bangunan lain diperlukan di wilayah tujuanwisata. Seiring dengan pembangunan itu, jumlah trafik wisatawan, jumlah kendaraan dan kepadatan kemudian lintas jadi meningkat.

Hal ini tidak saja menyebabkan desakan terhadap lahan, melainkan pun perubahan faedah lahan lokasi tinggal menjadi lahan komersil, kemacetan kemudian lintas, polusi udara dan polusi estetika (terutama saat bangunan didirikan tanpa aturan pengaturan yang benar).

Dampak buruk tersebut dapat ditanggulangi dengan mengerjakan manajemen pengunjung dan pengaturan wilayah kota atau desa serta memberdayakan masyarakat untuk memungut andil yang besar dalam pembangunan. #LombaEsaiKemanusiaan

Previous Post Next Post

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply